5 Mitos dan Fakta mengenai Disforia Gender, Jangan Salah Memahami!

LIGAPOKER – 5 Mitos dan, Bicara tentang kesehatan mental, isunya ada banyak sekali. Salah satunya adalah disforia gender (gender dysphoria), yang dulunya dikenal sebagai gangguan identitas gender.

Disforia gender adalah kondisi yang dirasakan oleh orang-orang yang dikenal dengan sebutan transgender, yang mana mereka mengalami rasa tak nyaman atau tertekan akibat adanya ketidakcocokan antara jenis kelamin biologis atau yang didapat saat lahir, dengan identitas gender yang mereka merasa memiliki.

Beragam stigma mengenai disforia gender ini berkembang dalam masyarakat, begitu pula dengan berbagai mitos yang tersebar sehingga memunculkan pandangan negatif. Namun, di balik mitos, ada fakta pendukung yang menegakkan suatu pandangan. Berikut ini penjelasannya, dirangkum dari beberapa sumber.

1. “Anak-anak belum cukup dewasa untuk mengetahui identitas mereka”

5 Mitos dan Fakta mengenai Disforia Gender, Jangan Salah Memahami!

Pada kenyataannya, banyak anak secara dini yang telah memahami identitas gender mereka. Anak dengan disforia gender akan mulai menetapkan sebelum masa pubertas dan berkeyakinan kuat akan identitas mereka, apakah sesuai dengan yang diekspresikan atau yang ditetapkan (biologis).

2. “Transgender merupakan penyakit jiwa”

5 Mitos dan Fakta mengenai Disforia Gender, Jangan Salah Memahami!

Meskipun disforia gender adalah suatu kondisi kesehatan mental, tetapi ini bukanlah suatu penyakit mental.

Seperti yang sebelumnya disebut, dulunya disforia gender dikenal sebagai gangguan identitas gender atau gender identity disorder. Namun, nama tersebut akhirnya diubah dalam buku panduan The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) untuk menghapus stigma negatif yang melekat pada kata “gangguan” seperti skizofrenia.

Saat ini, tidak ada dasar genetik atau biologis mengapa seseorang bisa mengembangkan kondisi tersebut. Orang dengan disforia gender mengalami gangguan secara psikologis, seperti orang-orang dengan gangguan kepribadian, disosiatif, atau psikotik yang belum diketahui jelas secara standar ilmiah. Untuk itu, mereka berhak menerima rasa hormat, kasih sayang, dan bentuk dukungan apa pun.

3. “Semua pengidap disforia gender akan transisi secara medis”

5 Mitos dan Fakta mengenai Disforia Gender, Jangan Salah Memahami!

Semua individu transgender atau disforia gender tidak dapat dikelompokkan bersama dalam membuat keputusan medis mengenai gendernya.

BACA JUGA : 5 Bahan Tradisional ini Bisa Meredakan Gejala Reumatik

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2011, transgender dan individu yang tidak merasa sesuai dengan gender mereka ditanya apakah mereka melakukan transisi secara medis.

Hasilnya, 60 persen melakukan transisi dengan kapasitas tertentu dan 30 persen menjalani operasi untuk transisi. Hal tersebut menunjukkan bahwa operasi transisi adalah hak pribadi dan bersifat intim.

4. “Menjadi transgender hanya perlu operasi kelamin”

Faktanya, menjadi transgender tidak sesederhana yang dipikirkan. Tidak hanya beres dengan operasi kelamin saja. Di luar perubahan pribadi, mereka harus melakukan perubahan secara sosial dan hukum sesuai gender yang diekspresikan. Seperti perubahan nama akta kelahiran, KTP, SIM, dan masih banyak lagi.

Dalam banyak kasus, transisi secara hukum, fisik, dan emosional secara penuh memakan waktu yang cukup lama, bahkan bisa sampai bertahun-tahun.

5. “Transpuan bukanlah perempuan ‘sejati’, dan pria trans bukan laki-laki ‘sejati'”

Perlu dipahami lagi, bahwa identitas gender mengacu pada perasaan internal seseorang dari lubuk hati yang paling dalam, apakah mereka merasa perempuan atau laki-laki atau jenis kelamin lain. Identitas gender merupakan penentu kelamin biologis bersamaan dengan hormon, kromosom, dan anatomi reproduksi internal maupun eksternal.

Identitas gender seseorang dapat memiliki perbedaan dengan jenis kelamin yang ditetapkan dokter (pada akta kelahiran), dan cara mereka dibesarkan. Para ilmuwan, advokat, dan beberapa tokoh peneliti isu disforia gender menemukan bahwa perbedaan itu berada di luar kontrol individu.

Nah, itulah beberapa fakta mengenai disforia gender yang kerap menimbulkan kesalahpahaman. Sebagai alternatif akan stereotip negatif, kita tetap harus menghormati tiap individu ketika mereka mengidentifikasi identitas gender mereka.