Dampak Fetisisme bagi Orang Lain Dan Sekitar nya

Dampak Fetisisme

Dampak Fetisisme – Sejumlah laman Nasional masih membahas fetisisme atau fetishism, karena isu viral yang hangat diperbincangkan di media sosial. Lalu, apa saja dampak kondisi fetisisme yang dialami seseorang bagi orang lain?

Isu fetisisme berawal dari unggahan Twitter dengan akun @m_fikris soal fetish kain jarik (kain panjang) yang dibungkus pada tubuh seseorang . Pemilik akun tersebut bercerita bahwa yang ia alami merupakan pelecehan seksual melalui foto dan video yang berkedok riset.

Berdasarkan pengertian di laman KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), fetisisme sendiri merupakan bangkitnya gairah seksual seseorang melalui suatu benda. Menurut dr. Alvina, Sp.KJ, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di Primaya Hospital Bekasi Barat.

“Bahaya akan timbul bagi masyarakat sekitar bila terjadi tindakan yang melanggar hak-hak orang lain dalam rangka mencari objek fetish seperti seseorang mencuri pakaian dalam dan menimbulkan rasa tidak aman bagi lingkungan,” ujar dr. Alvina.

“Selain itu, bahaya juga dampak timbul seperti saat anak terpapar dengan penyimpangan seksual yang berpotensi menimbulkan perilaku imitasi sehingga anak lainnya kelak juga mengalami penyimpangan seksual,” tambahnya.

Ia menambahkan bahwa dari diagnosisnya, objek tidak hidup seseorang dengan fethishism tidak termasuk bagian pakaian yang digunakan untuk cross dressing.

yang memang di desain untuk memberikan stimulasi genital seperti vibrator.

Ia memaparkan, fetishism bisa disertai dengan gangguan mental lainnya. Misalnya, orang tersebut juga memiliki gangguan mood seperti gangguan depresi, gangguan cemas, atau gangguan psikotik.

“Jika ditanya apakah seorang dengan fetishism sendiri mengancam keselamatan atau kejiwaan orang lain, maka kita harus kembali lagi bahwa gangguan fetihistik sendiri melibatkan objek yang tidak hidup dan biasanya ada rasa inadekuat maka konfrontasi secara langsung jarang dilakukan,” paparnya.

Dampak Fetisisme

Fetishism mungkin bisa terjadi saat anak menjadi korban atau anak melihat perilaku seksual yang menyimpang. Ada teori lain yang mengatakan bahwa seseorang mungkin mengalami

kurangnya kontak seksual sehingga mencari pemuasan dengan cara yang lain.

Terdapat pula teori lainnya yang mengatakan bahwa terjadi keraguan tentang maskulinitas pada laki-laki yang mengalami fetishism. Selain itu, ada rasa takut terhadap adanya penolakan yang terjadi.  Oleh karena itu ia menggunakan objek yang tidak hidup untuk memberinya kepuasan seksual.

“Secara umum, penyimpangan seksual lebih banyak dialami laki-laki daripada perempuan dan terdapat teori yang mengatakan bahwa Fetishism berkembang sejak masa kanak-kanan namun ada pula yang mengatakan onset-nya adalah saat masa pubertas,” jalasnya.

Untuk melakukan penyembuhan, gangguan Fetihistik bisa diterapi dengan berbagai modalitas psikoterapi baik individual maupun kelompok serta dapat dilakukan pemberian terapi obat-obatan dan hormon.

“Untuk menghindari gangguan Fetihistik, hendaknya masyarakat menciptakan lingkungan yang ramah anak, peduli pada kesehatan anak baik secara fisik maupun mental, dan bersikap melindungi anak dari paparan kekerasan baik kekerasan fisik, mental, maupun seksual,” pungkasnya.

Baca juga :  Cara Membuat Nasi Kuning yang Enak

#LigaPoker