Defisit Dagang RI dengan China Capai US$11 Miliar

Defisit

LigaPoker – Indonesia mengalami defisit perdagangan nonmigas dengan China mencapai US$11,05 miliar sepanjang tujuh bulan pertama atau sampai Juli 2019. Angka defisit melonjak dari periode yang sama tahun lalu hanya US$10,33 miliar.

Secara rinci disebutkan, impor nonmigas dari China Rp24,73 miliar atau 29,08 persen dari total impor Indonesia. Di sisi lain, ekspor Indonesia ke China hanya US$13,68 miliar atau 15,53 persen dari total ekspor.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Juli 2019, neraca perdagangan Indonesia terhadap China defisit US$1,8 miliar. Angka itu merosot dari defisit bulan yang sama tahun sebelumnya, yakni mencapai US$2,07 miliar.

Meski defisit menurun pada Juli, namun akumulasi defisit sampai saat ini tetap membengkak karena ulah aktivitas perdagangan di awal tahun. Tercatat, defisit kuartal I 2019 mencapai US$5,18 miliar atau jauh lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu US$3,82 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan defisit perdagangan Indonesia dengan China lebih dalam pada Januari-Juli 2019. Maka itu, pemerintah dan pihak terkait perlu mewaspadai perlambatan ekonomi di negara tujuan dan membenahi masalah internal

“Ini membuktikan bahwa ekspor kita tetap ada, tapi pertumbuhan impornya lebih tinggi dengan komoditas-komoditas (China),” ujar Suhariyanto, Kamis (15/8).

Dia meyakini hasil perundingan antara AS dan China akan mengganggu volume dan nilai perdagangan internasional, kendati ia tak dapat menjelaskan lebih rinci tantangan yang dimaksud.

“Kami perlu identifikasi komoditas antara AS-China, tapi kalau dilihat ekspor kita ke AS dan China masih bagus, meskipun impor dari China bulan ini agak naik tinggi,” ungkap Suhariyanto, Kamis (15/8).

Dia berharap proses perundingan perdagangan antara AS dan China segera membuahkan kepastian. Menurut dia, kondisi ketidakpastian tak akan membuat situasi ekonomi, terutama perdagangan global, stabil.  “Ini jadi tidak enak nih, serba tidak pasti, kadang ada perlambatan, harga komoditasnya fluktuatif, harga minyak naik tipis,” ujarnya.

Selain dengan China, Indonesia juga mengalami defisit perdagangan dengan Thailand US$2,2 miliar. Angka itu lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu US$2,9 miliar. Tak hanya itu, defisit juga terjadi pada perdagangan Indonesia dan Australia sebesar US$1,4 miliar, dari periode yang sama 2018 US$1,6 miliar.