ISIS Belum Habis

ISIS Belum Habis

LigaPoker – Pimpinan tertinggi kelompok teroris internasional ISIS, Abu Bakar al Baghdadi, kembali dikabarkan tewas dalam suatu serbuan operasi rahasia pasukan khusus Amerika Serikat di kawasan pedesaan Barisha, Idlib, di Timur Laut Suriah, Sabtu malam (26/10).

Kepastian kabar ini masih belum diumumkan secara resmi. Sejumlah pihak dilaporkan masih melakukan tes DNA dan biometrik untuk mengidentifikasi identitas sejumlah orang yang tewas dalam serangan mendadak tersebut.

Meski begitu, media langsung ramai membahas tentang sosok penerus yang akan dipercaya untuk melanjutkan tampuk kepemimpinan ISIS. Sejumlah nama yang digadang-gadang pun muncul, beberapa di antaranya adalah: Amir Muhammad Said Abdal-Rahman Al Mawla, Sami Jasim Muhammad Al Jaburi, Mu’taz Numan ‘Abd Nayif Najm Al Jaburi dan Abdullah Qardash.

Dari empat nama di atas, nama terakhir diyakini banyak pihak berhasil mengeruk dukungan penuh dari anggota ISIS yang tersisa. Bahkan, sebagaimana dilaporkan oleh media Amaq pada 7 Agustus 2019 lalu, al-Baghdadi telah menunjuk langsung Qardash sebagai suksesornya.

Qardash memang bukan orang sembarangan. Sebelum bergabung dengan ISIS, Qardash adalah lulusan sebuah perguruan tinggi Ilmu Pengetahuan Islam di Mosul dan sempat menjabat sebagai perwira di masa pasukan Saddam Hussein.

Ia dikenal sebagai orang yang sangat dekat dengan wakil al Baghdadi, Abu Ala al-Afri yang terbunuh pada tahun 2016. Qardash juga orang yang pandai, hingga ia dijuluki “Profesor” di internal ISIS. Sosok ini pula yang berada di balik semua kebijakan brutal di ISIS.

Tak sedikit pakar yang menyebut Qardash sebagai sosok yang beringas, tapi begitu popular di kalangan internal ISIS. Bahkan beberapa pakar keamanan internasional menyebut Qardash sebagai sosok yang paling loyal terhadap al Baghdadi. Ia tak segan menghabisi siapa saja yang berani menentang kebijakan al Baghdadi.

Ia bahkan disebut memiliki kedekatan khusus dengan al Baghdadi. Keduanya diketahui pernah sama-sama dipenjara di kamp Bucca di Basra oleh pasukan AS karena keterkaitan mereka dengan al Qaeda pada tahun 2003. Tak banyak yang tahu, di kamp inilah al Baghdadi mulai menjalin aliansi dengan narapidana lain sambil memperbaiki visi kekhalifahannya.

Di antara narapidana yang diajak berkoalisi itu, sosok Qardash begitu mencuri perhatian. Apalagi, saat itu Qardash adalah komisaris agama dan hakim umum syariah untuk al Qaeda.

Diragukan

Rumor soal pengangkatan Abdullah Qardash sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan di tubuh ISIS ternyata masih diragukan oleh sejumlah pihak.

Keraguan ini pun didukung dengan alasan yang sangat bagus. Tak mungkin rasanya ISIS dipimpin oleh orang selain Abu bakar al Baghdadi sendiri. Di kelompok ISIS, al Baghdadi bukan hanya berperan sebagai pimpinan, tapi juga khilafah, seseorang yang diyakini diutus Tuhan untuk mengemban misi mulia namun berat tak terkira.

Tak mungkin pula peristiwa peralihan tampuk kepemimpinan hanya disampaikan melalui pesan singkat sebagaimana dirilis oleh Amaq pada Agustus lalu.

Satu hal yang pasti, ISIS tetap berbahaya. Bahkan ketika benteng terakhir ISIS, Baghouz, ambruk pada Maret 2019 lalu, ISIS tetap kokoh berdiri. Mereka berganti bentuk menjadi sel-sel pemberontak yang tersebar di seluruh Irak dan Suriah.

Pecahan-pecahan kelompok ISIS juga masih berbuat onar di banyak negara seperti Irak, Afrika, Suriah dan Afghanistan hingga Oktober 2019 ini.

Belakangan ini juga beredar video-video pendek yang menunjukkan simpatisan ISIS di 12 negara melakukan pembaruan bai’at (janji setia) kepada pimpinan mereka, Abu Bakar al Baghdadi. Ini menegaskan bahwa ISIS masih belum habis. Terlebih, beberapa kalangan menyebut bahwa janji setia ini tak hanya ditujukan untuk al Baghdadi, tetapi kepada siapa saja yang nantinya akan memimpin ISIS, termasuk Qardash.

ISIS Belum Habis

Tak Butuh Pemimpin

Kalau pun benar kabar al Baghdadi tewas, tak berarti kelompok ISIS yang dipimpinnya tuntas. Sebagai kelompok pemuja kekerasan yang lahir dan berkembang di era modern, ISIS sesungguhnya tak menggantungkan perjuangan mereka hanya kepada sosok pemimpin.

Ini berarti, dengan atau tanpa pemimpin, ISIS tetap menjadi mimpi buruk bagi kemanusiaan.

Dalam Grassroots Cells: Even More Dangerous Than Lone Wolves (2015), Scott Stewart menegaskan bahwa individu, termasuk pemimpin organisasi teroris, tak akan bisa memanggul semua beban keorganisasian sendiri. Setiap individu teroris memiliki keterbatasan, yang jika dipaksakan justru akan membahayakan kelompoknya.

Terorisme masa kini, menurut Stewart, cenderung bergerak secara bergerombol dan membagi diri ke dalam beberapa tingkatan.

Di tingkat pertama, kelompok teroris bekerja sebagai ‘penyedia informasi publik’. Di tingkat ini, mereka akan bekerja dengan cara membuat dan menyebarkan informasi yang sekilas tampak wajar dan biasa-biasa saja, sehingga aparat penegak hukum tak akan bisa melakukan tindakan apa-apa terhadap mereka.

Padahal jika ditilik lebih dalam, informasi yang mereka sebarkan mengandung kebohongan dan tak jarang mengarah pada pencarian dukungan terhadap terorisme.

Sementara di tingkat kedua, kelompok teroris akan bekerja sebagai serigala tunggal (lone wolf) dan sel-sel kecil yang melancarkan serangan teror sesuai dengan petunjuk dan arahan yang mereka terima dari orang-orang di tingkat pertama.

Yang perlu dipahami, orang-orang di tingkat kedua akan mati-matian menutupi kaitan serangan yang mereka lakukan dengan timbunan informasi yang diproduksi oleh orang-orang di tingkat pertama. Ini semua dilakukan demi untuk melindungi aset utama mereka; produsen informasi.

Analisis ini mematahkan anggapan bahwa kelompok teroris sangat bergantung pada otoritas pimpinannya. Sebab faktanya, aksi teror tetap terjadi, baik akibat ulah kelompok teroris, maupun oleh para serigala tunggal yang tak memiliki kaitan langsung dengan kelompok teroris tertentu.

Lebih jauh tentang ini, Paul Joasse dalam Exploring the Rhetorical Dynamics of Lone Actor Violence (2015) membagikan kecemasannya tentang intensitas serangan teror yang kemungkinan tak akan pernah habis, atau bahkan tambah besar, di masa mendatang jika salah ditangani.

Meski kerap menggunakan atribut keagamaan, teroris tak selalu soal agama. Dalam konteks lone wolf misalnya, ia mengamati kebanyakan sebabnya adalah perasaan terasingkan.

Orang-orang yang berakhir sebagai lone wolf adalah orang-orang yang di kehidupan sosialnya tak punya banyak teman. Mereka terkungkung dalam kesendirian yang mematikan.

Dua analisis dari dua pakar di atas setidaknya memberi kita gambaran yang lebih jelas tentang kondisi terorisme saat ini. Pertama, terorisme di era modern bekerja dengan cara berbeda dan menjadi lebih luwes tanpa keharusan untuk patuh terhadap sistem kepemimpinan hirarki.

Artinya kelompok teroris tak lagi sepenuhnya menggantungkan eksistensi organisasi kepada sosok seorang pemimpin. Masing-masing anggota memiliki fungsi dan tugas tersendiri, mulai dari melakukan serangan fisik hingga ‘sekadar’ memelintir informasi untuk kemudian disebarkan melalui berbagai platform media.

Tanpa keberadaan seorang pemimpin pun, mereka akan tetap menjalankan setiap tugasnya masing-masing.

Kedua, untuk melawan terorisme, penegakan hukum masih menjadi strategi pendekatan yang efektif, dengan mengedepankan pre-emptive strike, yaitu upaya penegakan hukum untuk mencegah suatu serangan yang diyakini akan terjadi.

Ketiga, deradikalisasi sering disebut sebagai solusi, tetapi implementasinya selama ini terbukti terbatas. Ideologi teroris cenderung dipahami sebatas ideologi relijius dan bahwa ajaran agama (terutama Islam) membenarkan penggunaan kekerasan.

Diskursus tentang deradikalisasi ini perlu dirombak, dari upaya mengubah pikiran teroris menjadi upaya mencegah residivisme teroris.

Bourdieu (1977) dalam theory of practice, membagi teori tersebut dalam beberapa konsep di antaranya habituscapital dan field/arena. Menurut Bourdieu, capital merupakan seperangkat kekuatan atau sumber daya yang dimiliki seseorang atau suatu kelompok untuk masuk dalam sebuah field.

Bourdieu menjelaskan, field merupakan ranah bagi para aktor atas berbagai capital. Dalam kaitannya melawan terorisme, terjadi dekapitalisasi identitas warga negara bagi yang dialami oleh para pengikut ISIS, yakni ideologi negara, Pancasila. Bagi mereka, capital kekhalifahan adalah satu-satunya kebenaran. Dengan demikian, penguatan Pancasila sebagai satu-satunya ideologi negara pun perlu ditegaskan.