Kunjungan Muhibah, Jadi Sarana Pelestarian dan Perkuat Budaya Melayu Bugis di Batam

Masyarakat Bugis Melayu Serumpun kembali akan melakukan kunjungan muhibah. Kegiatan yang bertujuan untuk mempereret jalinan budaya antar suku dan silaturahmi itu siap digelar di Grand I Hotel Batam, pada 27 April 2019.

Kegiatan Kunjungan Muhibah Bugis Melayu Serumpun ini mengambil tema Eratkan Budaya Demi Kekuatan Bangsa. Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani mengatakan bahwa kunjungan muhibah akan diisi acara silaturahmi, dengan menelusuri kerabat di Semenanjung Melayu. Sekaligus ziarah ke makam nenek moyang atau para tetua adat yang masih memiliki garis keturunan.

Menurutnya, banyak sekali hikayat yang menceritakan tentang peran silsilah dan petualangan orang Bugis Makassar di negeri-negeri Melayu. Berawal dari pengembaraan Karaeng Samarluka, anak Raja dari tanah Mangkasar ke ujung tanah (Semenanjung Melaka), hingga tersebut juga peran aktif Empu Tenri Borong Daeng Rilekke bersama kelima putra dan keturunannya.

“Akibatnya, benang merah dari sebuah penjelasan sejarah yang amat penting menjadi terabaikan. Apa yang diperoleh mengenai ulasan sejarah tentang Melayu-Bugis atau Makassar sebenarnya belum utuh,” ujarnya, Jumat (12/4).

Kunjungan Muhibah Bugis Melayu Serumpun ini merupakan rangkaian dari festival budaya yang selalu digelar setiap tahun. Kegiatan ini sangat penting sebagai salah satu sarana komunikasi, dalam upaya pelestarian serta dokumentasi budaya dan sejarah.

“Pelestarian budaya dan sejarah merupakan aset bangsa, sebagai salah satu upaya menarik wisatawan, sekaligus memperkuat silaturahim antara masyarakat Melayu Bugis. Sisi positif lainnya, kegiatan ini diyakini mampu meningkatkan kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara,” ungkapnya, diamini Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional I Dessy Ruhati.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau Boeralimar menambahkan selain sebagai promosi budaya, perjalanan silaturahmi ini, juga dimanfaatkan sebagai jembatan untuk menyambung hubungan kekerabatan antara masyarakat Bugis dengan Melayu.

Dalam skala yang lebih tinggi, diharapkan dapat mempererat hubungan budaya Indonesia, Singapura dan Malaysia sebagai masyarakat serumpun.

“Kunjungan muhibah juga dimaksudkan sebagai napak tilas perjalanan sejarah orang-orang Bugis Makassar yang hijrah ke Kepulauan Riau, hingga akhirnya berbaur dengan masyarakat Melayu. Meski dengan latar belakang atau tradisi yang berbeda, ini justru menjadi kekuatan betapa kayanya ragam budaya Indonesia,” katanya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan, saat ini pariwisata menjadi leader pembangunan nasional. Potensi yang ada harus dimanfaatkan sebaik mungkin, termasuk soal pelestarian budaya. Sebab, budaya memiliki impact yang bagus bagi masyarakat. Semakin dilestarikan, maka semakin menyejahterakan.

“Saya mendorong agar para penggiat budaya mampu menghasilkan daya kreasi yang bernilai komersil tinggi. Terlebih jika kreasi yang dimaksud merupakan gabungan budaya dari dua kultur yang berbeda. Pasti semakin menarik,” ujarya.