Layar Lipat, Medan Tempur Baru Vendor Ponsel

Layar Lipat, Medan Tempur Baru Vendor Ponsel

LigaPoker – Tren ponsel layar lipat sedang menjadi tren terkini pada 2019. Banyak vendor besar yang mulai menggarap ponsel yang mengusung ponsel berengsel ini. SamsungHuawei, LG, Motorolla Xiaomi, hingga Vivo berbondong-bondong menggarap ponsel dengan teknologi teranyar ini.

Dua nama pertama bahkan telah mengumumkan produk ponsel layar lipat berupa Galaxy Fold dan Mate X. Akan tetapi, gawai-gawai memang belum beredar di pasaran dan para penggila gadget mesti bersabar hingga akhir kuartal 2019 untuk bisa memilikinya.

Pengamat gawai Herry SW meyakini ponsel layar lipat akan digandrungi oleh konsumen di Indonesia. Alasannya, gawai sudah dianggap menjadi sebuah bagian dari gaya hidup manusia. Masyarakat di Indonesia sangat mementingkan kenyamanan gaya hidup, salah satunya adalah dengan menggunakan ponsel untuk meningkatkan kasta atau status dirinya.

“Kalau bicara pasar Asia, lebih spesifik di Indonesia, ponsel lipat itu pasti laku. Indonesia itu adalah pasar yang sangat peduli dengan lifestyle. Jadi kemarin kalau mereka pakai suatu perangkat terbaru duluan, seolah kasta naik satu level, dua level. Itu cerita lama, mulai dari zaman Nokia Communicator dulu, punya duluan, gaya duluan,” kata Herry dalam sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, Rabu (6/3).

Herry melanjutkan, demi gaya, konsumen Indonesia mengesampingkan harga, daya tahan, fitur, hingga fungsi ponsel. Pasalnya, daya tahan layar yang digunakan ponsel-ponsel lipat ini terbilang cukup rentan. Layar dari Samsung Galaxy Fold sendiri hanya kuat ditekuk-tekuk hingga 10 ribu kali. Sehingga, Samsung tengah mempertimbangkan untuk memberikan penggantian layar gratis bagi para pembeli ponsel ini.

Herry menyebut para penyuka gadget teranyar ini sebagai “Early Adopter”. Early Adopter adalah orang-orang yang sangat menginginkan melakukan hands on ke perangkat teranyar. Ia yakin Indonesia memiliki daya beli yang mumpuni.

“Andaikan masuk, saya tetap optimis ada pasar. Orang-orang lifestyle yang suka perangkat itu ‘Early Adaptor’ . Mereka ingin perangkat terbaru, harga tidak masalah, yang penting punya duluan,” kata Herry.

Tantangan yang akan diterima para vendor, bagi Herry, justru berasal dari pasar di benua Eropa yang lebih ‘rasional’ dibandingkan pasar Asia. Herry meyakini masuknya ponsel layar lipat dengan harga Rp20 juta hingga Rp30 juta ini akan mendapat resistensi tinggi dari pasar Eropa.

“Kalau berbicara di Eropa itu yang mereka sebetulnya beli gadget rasional. Ini ujian yang sebenarnya buat para produsen. Penjualan di Eropa bagaimana, mereka kan lebih rasional dari Asia, apalagi orang Indonesia,” kata Herry.

Sementara itu, CEO Erajaya Hasan Aula saat dihubungi dalam kesempatan terpisah mengatakan pasar Indonesia dipandang memiliki potensi tinggi untuk menjual ponsel layar lipat.

“Menurut saya ada segmen konsumen yang memang mencari produk yang seperti ini dan ini merupakan new design sehingga bisa laku di Indonesia,” kata Hasan.

Hasan mengatakan ponsel layar lipat ini akan memiliki segmen pasar yang cukup sempit mengingat harga ponsel yang masih berada di kisaran Rp20 juta hingga Rp 30 juta. Oleh karena itu, ponsel layar lipat ini akan membentuk segmen pasar spesifik di Indonesia.

“Ada konsumen yang memang suka desain baru dan harga segitu masih oke. Secara massal ini pasti tidak digunakan tapi ada segmen yang memang mampu beli,” kata Hasan.