Saham Perkebunan Mengilap di Bawah Tekanan Sawit Uni Eropa

Saham Perkebunan Mengilap di Bawah Tekanan Sawit Uni Eropa

                       LigaPoker – Di tengah badai persoalan sawit Indonesia dengan Uni Eropa, bukan berarti saham-saham berbasis perkebunan tak layak dikoleksi. Pelaku pasar justru disarankan mulai melakukan akumulasi beli.

Analis MNC Sekuritas Muhammad Rudy Setiawan mengatakan upaya pemerintah untuk mendorong penyerapan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di dalam negeri melalui program kebijakan pencampuran 20 persen biodiesel terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) atau B20 akan semakin masif tahun ini.

“Pemerintah mengupayakan peningkatan konsumsi CPO domestik melalui perluasan B20 dengan menetapkan alokasi volume untuk pengadaan biodiesel sebesar 6,20 juta kiloliter (kl),” ujarnya, Senin (15/4).

Angka itu melonjak dari posisi tahun lalu yang hanya 2,89 juta kiloliter. Maklum, program B20 baru diimplementasikan pada September 2018. Makanya, jumlah alokasi volume untuk pengadaan biodisel 2018 lebih rendah.

“Kami meyakini program perluasan mandatori B20 berjalan efektif,” terang dia.

Semakin efektif, maka penyerapan CPO juga bertambah di dalam negeri. Dengan demikian, produsen tak perlu ambil pusing dengan kicauan Uni Eropa yang terus memandang sawit Indonesia sebagai hal yang berisiko.

Melihat kondisi ini, Rudy menyarankan pelaku pasar untuk membeli saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Sebagai produsen minyak sawit di Indonesia, keduanya tentu akan mendulang untung.

“Saat ini trennya lagi turun, tapi dengan sentimen ini akan jadi angin segar, tentunya akan berpengaruh juga kepada laba perusahaan,” imbuh Rudy.

Untuk mengingatkan, pemerintah kini sudah bulat akan menggugat Uni Eropa jika tetap memberlakukan kebijakan Delegated Regulation Supplementing Directive of The UE Renewable Energy Directive (RED) II pada 12 Mei mendatang.

Rancangan Delegated Regulation itu berisikan bahwa Komisi Eropa memutuskan untuk mengklasifikasikan CPO sebagai komoditas yang tidak berkelanjutan dan berisiko tinggi. Apabila rancangan tersebut disetujui Parlemen, maka Komisi Eropa akan memiliki dasar hukum untuk menjegal masuknya CPO ke Benua Biru itu.

Namun, Rudy menyebut pasar tak perlu khawatir kehilangan pasar ekspor CPO ke Eropa, karena pemerintah juga memperluas program B20 menjadi B30 dengan melakukan uji jalan (road test) pada kendaraan yang berbahan bakar solar campuran biodisel 30 persen pada kuartal II 2019. 

Hal itu menjadi bagian dari persiapan penerapan implementasi mandatori B30. “Perluasan B20 menjadi B30 diperkirakan mampu menyerap CPO dalam bentuk biodiesel hingga 6 juta ton,” katanya.

Pemerintah juga bercita-cita menerapkan B100 dalam beberapa waktu ke depan. Untuk itu, saham di sektor perkebunan diproyeksi bukan hanya bisa memberikan cuan untuk jangka menengah, melainkan sampai jangka panjang.

Mengutip RTI Infokom, harga saham PP London Sumatra Indonesia akhir pekan lalu terkoreksi 0,89 persen ke level Rp1.110 per saham, sedangkan Astra Agro Lestari menguat 0,2 persen ke level Rp12.300 per saham.

Dalam jangka panjang harga saham PP London Sumatra diprediksi tembus Rp1.420 atau naik 27,92 persen. Lalu, saham Astra Agro Lestari berpeluang menguat 12,39 persen ke level Rp13.825 per saham.

 Lirik Waskita Beton Precast

Selain saham produsen CPO, pelaku pasar bisa melirik saham PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP). Gerak-geriknya sejak pekan lalu terus menunjukkan perbaikan.

Analis Danpac Sekuritas Harry Wijaya mengatakan laju saham anak usaha PT Waskita Karya (Persero) Tbk ini melemah sejak melakukan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) pada 2016 lalu. 

Beruntung, saham Waskita Beton Precast berhasil melaju di zona hijau dan menembus rekor terbarunya di level Rp422 per saham pada perdagangan Jumat (12/4). “Saham emiten konstruksi selalu tembus harga IPO, hanya Waskita Beton Precast yang belum tembus harga IPO,” tutur Harry.

Saat IPO, manajemen memutuskan untuk menjualnya di harga Rp490 per saham. Harry memprediksi peluang untuk mencapai harga IPO terbuka bagi Waskita Beton Precast. “Secara tren sudah berubah, dari tren melemah menjadi penguatan,” jelasnya.

Harry melihat situasi ini sebagai pergerakan teknikal saja. Menurutnya, belum bisa diketahui pasti alasan fundamental di balik perubahan arah saham Waskita Beton Precast.

Walau begitu, pasar setidaknya bisa mengacu pada laporan keuangan perusahaan yang positif sepanjang 2018. Laba bersih Waskita Beton Precast tumbuh 10,31 persen dari Rp1 triliun menjadi Rp1,1 triliun.

Realisasi itu didorong oleh meningkatnya pendapatan perusahaan sebesar 12,61 persen dari Rp7,1 triliun menjadi Rp8 triliun. Pendapatan disumbang oleh tiga jenis bisnis, yakni jasa konstruksi sebesar Rp1,21 triliun, produk precast Rp2,33 triliun, dan produk readymix Rp4,45 triliun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *