Saran Psikolog saat Anak Beranjak Remaja dan Menjauh dari Orangtua

Saran Psikolog saat Anak Beranjak Remaja dan Menjauh dari Orangtua

Seringkali orangtua merasakan anak remaja cenderung makin jauh, tidak dipahami dan seolah makin tertutup. Mereka lebih banyak di kamar. Bahkan mungkin remaja menjadi lebih senang mengobrol dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya.

Menurut psikolog Roslina Verauli, remaja sebenarnya sedang butuh waktu untuk membangun identitasnya sendiri. Hal ini serupa dengan orangtua atau kakek neneknya yang butuh waktu untuk diri sendiri. Apalagi emosi remaja yang belum stabil.

“Bagi remaja, situasi-situasi yang mereka alami sehari-hari bisa membuat emosinya kembali tidak stabil. Terlebih lagi kalau lagi marah menjadi lebih marah atau kalau lagi sedih, malah menjadi lebih sedih,” terang Vera, sapaan akrabnya saat sesi webinar Peran Penting Pendidik Sebaya dalam Menjalankan Kegiatan di Masa Pandemi dan New Normal, ditulis Minggu (28/6/2020).

“Misalnya, mereka mungkin punya masalah, lagi berantem atau putus dengan pacarnya. Bisa juga mereka merasa gagal secara akademis. Ini kan sesuatu yang remaja itu butuh melakukan refleksi diri.”


Kasih Sayang dan Simpati

Remaja juga terkait dengan masa-masa pubertas yang sedang dialami. Mereka mengalami transisi yang kompleks, bukan anak-anak lagi. Berpikiran dewasa juga belum.

“Jadi, yang namanya remaja itu ya ada di tengah-tengah (bukan anak-anak, bukan dewasa). Kita bisa lihat dari sisi perubahan terkait fisik perubahan, cara berpikir juga berubah,” lanjut Vera.

“Makanya, mereka merasa bahwa masalah yang dihadapi itu yang paling besar di dunia. Misal, kalau putus dari pacarnya itu merupakan peristiwa putus yang paling menyakitkan sedunia rasanya.”

Vera menambahkan, yang dibutuhkan oleh remaja, terutama di usia 12 – 13 tahun, yakni kasih sayang. Kasih sayang bahwa mereka diterima dicintai tanpa syarat.

“Kalau di dunia psikologi maksudnya ada seseorang yang bersedia mendengarkan curhatan dari remaja. Ini karena mereka hanya butuh seseorang yang seolah-olah mengerti dan mau dengerin sungguh-sungguh,” tambahnya.

“Di rumah, misalnya, kalau si remaja cerita tentang apa yang dialami tapi enggak didengerin gitu kan sedih. Jadi, kita butuh orang yang menyayangi.”

Remaja juga butuh empati dan simpati. Bahwa bagaimana remaja dapat terdorong untuk bahagia. Simpati dan empati untuk menolong permasalahan, termasuk kesedihan yang dialami.