Sri Mulyani Ramal PSBB DKI Buat Kontraksi Ekonomi Makin Dalam

Sri Mulyani

Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020 terkontraksi lebih dalam dari prediksi batas bawah (lower end) jika PSBB DKI Jakarta dilakukan secara ketat seperti pola awal. Imbas PSBB tahap pertama pada April hingga Juni pertumbuhan ekonomi mengalami minus 5,32 persen pada kuartal II 2020.

Tak hanya itu, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2020 juga hanya bisa tumbuh 2,97 persen karena virus corona ditemukan pada awal Maret. Imbasnya, masyarakat mulai membatasi aktivitas ekonomi sejak Maret meskipun belum terjadi PSBB secara resmi.

“Estimasi kami untuk pertumbuhan ekonomi 2020 di kuartal III seperti yang sudah saya sampaikan di DPR beberapa kali, di kisaran 0,0 persen hingga minus 2,1. Kalau pun kami melihat seperti Maret lalu, dimana PSBB drastis turun hampir 2 persen, kami perkirakan untuk lower end yang minus 2,1 persen bisa jadi lebih rendah dari minus 2,1 persen,” ujarnya dalam acara tanya jawab virtual, Selasa (15/9).

Namun, ia mengaku belum memiliki proyeksi pertumbuhan ekonomi terbaru sebagai dampak PSBB DKI Jakarta. Sebab, berdasarkan penjelasan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan PSBB jilid II ini tidak seketat pada tahap awal. Sejumlah kantor termasuk pemerintah masih boleh beroperasi dengan kapasitas turun menjadi 25 persen.

“Perkiraan yang baru nanti kami lihat berdasarkan assessment kami terhadap pergerakan dalam dua minggu ini. Kami harap tidak sampai jauh menurunnya,” tuturnya.

Sementara itu, untuk pertumbuhan ekonomi di kuartal IV nanti prediksi belum berubah di kisaran 0,4 persen sampai 3,1 persen. Secara tahunan, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran minus 1,1 persen hingga 0,2 persen.

Ani, sapaan akrabnya mengaku pemerintah telah mengantisipasi pertumbuhan ekonomi berada di prediksi batas bawah yakni minus 1,1 persen akibat PSBB DKI Jakarta. Maklum saja, ibu kota memiliki andil kurang lebih 17,7 persen kepada PDB nasional.

“Secara total 2020, proyeksi kami masih di kisaran minus 1,1 persen hingga 0,2 persen. Namun, mungkin tone-nya kami melihat dalam kisaran ini karena seperti yang terjadi di DKI Jakarta kami harus persiapkan kemungkinan kita berada di lower end,” imbuhnya.

Selain PSBB, faktor utama lainnya yang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini adalah perkembangan kasus covid-19. Pemerintah, kata dia, akan fokus pada delapan daerah yang memiliki peningkatan kurva covid-19 cukup tinggi, termasuk di dalamnya DKI Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *