Tahapan Pemberian Bantuan untuk Pengungsi Tsunami Selat Sunda

KESEHATAN – Menangani permasalahan gizi para korban terdampak tsunami Selat Sunda, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bekerja sama dengan pusat krisis kesehatan untuk menyalurkan bantuan yang dibutuhkan.

Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Doddy Izwardy mengatakan bahwa dalam menangani gizi di sejumlah wilayah tsunami terbagi menjadi tiga tahap. Yang paling penting adalah pengadaan susu formula (sufor).

“Saat ini memang semua orang mau memberikan makanan kepada korban bencana,” kata Doddy dalam diskusi bersama media di Gedung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta pada Kamis, 10 Januari 2019.

Dalam penanganan ini, lanjut Doddy, Kemenkes turut menggandeng Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), UNICEF, dan pemerhati terutama dalam pengadaan susu formula agar sampai di pemerintah daerah.

“Agar ini sampai juga kepada ibu hamil, anak balita, juga yang sedang menyusui karena ini penting,” ujarnya.

Menurut Doddy, di pengungsian korban tsunami Selat Sunda terdapat tenda pemberian makanan bayi dan anak. Di sinilah Kementerian Kesehatan akan memberikan susu formula kepada anak yang masih menyusu dan balita supaya mereka tidak memperoleh masalah gizi di tempat bencana.

Kemudian, Kementerian Kesehatan pun memikirkan mengenai pemberian bantuan jangka panjang, seperti makanan tambahan.

“Kita mengetahui bahwa masyarakat bencana sedang tidak memiliki pekerjaan. Di sini kita bekerjasama dengan Pemda (Pemerintah Daerah) setempat tentang pengadaan makanan, terutama dari Kemenkes untuk makanan tambahan,” ujarnya.

Dengan begitu pemberian bantuan pada tahap selanjutnya di daerah bencana tetap terlaksana. Jangan sampai para pengungsi dari bencana tsunami Selat Sunda, baik yang ada di Banten maupun Lampung, tidak dapat makanan.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr Achmad Yurianto, mengatakan, disediakan juga pengadaan dapur umum.

Menurut Achmad, manajemen pengelolaan bencana dikelola sesuai fungsi. Barang tentu terjalin sebuah kerja sama yang dilakukan. Salah satunya terkait dengan ketersediaan makanan.

“Teman-teman di Cluster sosial sudah menyiapkan dapur umum. Tentunya di dalam proses pengelolaan, tidak termasuk dalam pemenuhan gizi khusus. Misalnya, anak-anak yang sudah kebanyakan diberikan beras, mi instan, kecap, dan ikan asin,” ujarnya.