Tepis Stereotip, Diandra Soemardi Berhasil Jadi Ahli Kimia di AS

Tepis Stereotip, Diandra Soemardi Berhasil Jadi Ahli Kimia di AS

Ahli KimiaDiandra Soemardi adalah ahli kimia asal Indonesia yang berkarir di Amerika Serikat. Ia berhasil menjajaki karir di dunia sains yang biasanya didominasi laki-laki.

Representasi perempuan di bidang sains dan teknik masih tergolong kurang jika dibanding laki-laki. Keterangan ini berdasarkan pada data terbaru dari lembaga federal independen, National Science Foundation di Amerika Serikat.

Menurut data tersebut, separuh dari tenaga kerja lulusan perguruan tinggi di Amerika adalah perempuan. Namun, hanya 28 persen yang bekerja di bidang sains dan teknik.

Guna mematahkan stereotip gender di dunia sains dan STEM (Sains, Teknologi, Engineering atau Teknik, Matematika) yang masih didominasi oleh laki-laki, Diandra berusaha meyakinkan generasi mendatang bahwa selalu ada tempat bagi perempuan di dunia yang ia tekuni saat ini.

“Orang-orang masih mikir bahwa saintis itu pasti ya bapak-bapak, udah tua, biasanya bule,” ujar Diandra Soemardi mengutip VOA, Rabu (14/10/2020).

Ia menambahkan, stereotip saintis masih sangat jelek, seperti dilihat dari tayangan kartun yang menggambarkan bahwa saintis itu biasa berbicara sendiri, membuat eksperimen yang meledak-ledak, tidak punya teman, dan terkesan kurang pergaulan.


Gara-Gara SARS

Perempuan yang suka main piano ini mengaku mulai tertarik ke dunia sains sejak duduk di bangku SMP. Saat itu, salah satu gurunya bercerita tentang wabah SARS yang menyebar namun belum ditemukan obatnya.

“Jadi waktu aku dengar itu kayak, ‘wow, perlu usaha dan orang buat kerjain hal seperti ini. Jadi menurut aku, itu suatu kesempatan dan membuat aku tertarik untuk jadi researcher dari SMP, ingin kerja di lab, ingin cari obat.”

Cita-cita Diandra untuk menjadi saintis sempat dipertanyakan oleh keluarga. Menurutnya, dukungan terhadap perempuan yang ingin terjun ke dunia sains atau STEM masih kurang.

“Ngapain jadi saintis? Nggak jadi penulis aja atau gimana?” katanya.

Tak dapat dimungkiri, ia sempat mendapat stigma bahwa perempuan harus bekerja di sektor yang lumrah bagi perempuan dan mengenyam pendidikan setinggi-tingginya adalah hal yang tidak perlu bagi perempuan.

Walau demikian, semangat dan kegigihannya terus menyala dan seolah menepis anggapan-anggapan tersebut. Perempuan yang juga gemar menari ini memutuskan untuk mengejar cita-cita serta menjadikan guru-gurunya sebagai panutan dan inspirasi.

“Enggak cuma mengajar, tapi juga bercerita tentang (perkembangan) teknologi dan sains. Jadi cerita tentang stem cell, bioteknologi, gene therapy, nano teknologi, dan semuanya itu dunia yang ingin banget aku pelajari dan terjun ke arah situ. Menurut aku keren banget,” katanya.


Mengambil Jurusan Kimia di AS

Demi meraih cita-citanya, Diandra memutuskan untuk mengambil jurusan kimia dan creative writing di Knox College, Gallesburg, Illinois di Amerika Serikat, dimana ia juga sempat bekerja di laboratorium salah seorang dosen pembimbingnya yang fokus kepada green chemistry atau kimia hijau (berkelanjutan), dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Ia pun lulus dengan predikat pujian dan menyabet dua penghargaan atas prestasinya di bidang sains.

Lulus S1, Diandra bertekad untuk terjun lebih dalam lagi ke bidang kimia. Ia pun langsung lompat ke program S3, suatu hal yang sudah lazim dilakukan, khususnya bagi yang menekuni jurusan kimia di Amerika Serikat.

“Jadi kalau minat bidang riset atau lanjut karir akademia, biasanya dari S1 bisa langsung S3, jadi nggak pakai S2,” jelas mahasiswa yang aktif sebagai wakil presiden PERMIAS (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di AS) ini.


Satu-Satunya Peneliti Perempuan

Kini di usia 25, Diandra sudah menjadi kandidat Ph.D., jurusan kimia, di University of Maryland, di College Park, Maryland. Selain dipercaya menjadi asisten dosen sekaligus pengajar mahasiswa S1, ia juga menjadi satu-satunya peneliti perempuan, di salah satu laboratorium kampusnya.

Sejalan dengan data National Science Foundation, jurusan ini turut menjadi bukti bahwa dunia saintis masih didominasi oleh laki-laki, baik dari para dosen maupun mahasiswanya.

“Perempuan itu memang harus bisa lebih berani untuk muncul. Biasanya gak ke-expose dan kurang kedengaran karena memang ini bidangnya lumayan laki, dan chemist-chemist terkenal juga semuanya laki-laki. Satu-dua doang chemist perempuan yang terkenal,” tambahnya.

Sebagai peneliti perempuan satu-satunya yang bekerja di salah satu laboratorium tidak pernah menjadi masalah bagi Diandra, khususnya dalam berinteraksi.

“Alhamdulillah, memang aku nyari lingkungan yang lumayan sehat. Tapi ada beberapa kali yang bilang perempuan sebenernya nggak pantas di lab gitu, soalnya nanti laki-laki banyak yang naksir,” katanya sambil tertawa.

“Enggak ada hubungannya kan? Jadi ini salah siapa?, Kita berhak juga di sini. Aku bilangnya ini bahan-bahan kimia kita yang kita kerjain, enggak peduli kita perempuan atau laki,” tutup perempuan yang juga menjabat sebagai Koordinator Bidang Pengumpulan Data & Penjangkauan Anggota Satgas COVID-19 PERMIAS Nasional ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *